Rapor Literasi sebagai Bukti Transformasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) SMP Taruna Bakti

Rapor Literasi sebagai Bukti Transformasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
SMP Taruna Bakti

Oleh : Bambang Purwanto, S.Kom., Gr.

Guru Informatika dan Koordinator Literasi SMP Taruna Bakti

bambangpurwanto64@guru.smp.belajar.id

bangpurwa@gmail.com

www.penamrbams.id


A — Awal

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah program dari pemerintah. Landasan hukum dari GLS adalah Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. SMP Taruna Bakti sekolah yang sangat peduli dengan kegiatan literasi. Sejak itulah tim literasi di SMP Taruna Bakti dibentuk dari tahun ajaran 2016-2017.

Perjalanan panjang kegiatan GLS ini sampai sekarang telah mengalami modifikasi kegiatan. Pada saat fase awal SMP Taruna Bakti melaksanakan kegiatan hanya membaca buku, tapi kini ragam kegiatan literasi dilasanakan oleh siswa SMP Taruna Bakti. Tim Literasi selalu dibentuk sebagai pelaksana kegiatan agar kegiatan berjalan fokus dan lancar.

Dalam perjalanannya memang tidak mudah. Penulis terlibat dari awal bagaimana program GLS ini berjalan. Sebuah progam yang harus dijalankan dengan penuh konsisten. Awal tahun 2016 program GLS hanya membaca buku, menulis hasil membaca buku, bisa dalam tulisan atau fishbone dan yang lainnya. Saat itu monitoring dari kegiatan literasi hanya fokus kelas, belum sampai perorangan. Sehingga poin literasi saat itu sifanya poin kelas, bukan poin literasi perorangan.

Saat terjadinya COVID-19, tahun 2020 Kepala Sekolah saat itu Bapak Insan Waluyo, S.Pd tetap bahwa kegiatan GLS masih tetap berjalan. Tim Literasi pun, membuat formulir digital yang diisi oleh setiap siswa. Data tersebut bisa diolah perorangan dan kelas. Inilah awal adanya poin literasi.

Sekolah menyadari perlunya alat ukur yang adil, terstruktur, dan berkelanjutan agar perkembangan literasi setiap siswa dapat dipantau secara jelas. Dari sinilah muncul gagasan untuk membuat Rapor Literasi sebagai bentuk penilaian komprehensif kegiatan literasi harian.


T — Tantangan

Dalam proses pengembangan, beberapa tantangan muncul:

  1. Kegiatan literasi berlangsung setiap hari, sehingga sulit mengumpulkan data secara manual.
  2. Guru membutuhkan sistem yang mudah digunakan, baik oleh siswa maupun TIM Literasi.
  3. Sekolah perlu memastikan bahwa penilaian literasi objektif, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga bisa memberikan laporan kepada siswa dan orang tua peserta didk.
  4. Tidak ada model baku dari pemerintah mengenai bentuk Rapor Literasi.
  5. Siswa perlu diajak untuk menumbuhkan kebiasaan literasi yang tidak sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi benar-benar bermakna.

Tantangan inilah yang mendorong lahirnya inovasi dan transformasi sistem literasi di SMP Taruna Bakti.


A — Aksi

Untuk menjawab tantangan tersebut, saya sebagai koordinator dari TIM LITERASI pada tahun ajaran  2023-2024 tepatnya pada semester ganjil telah merancanag laproan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) SMP Taruna Bakti.

Memperhatikan kegiatan literasi yang sudah beragam, yaitu :

  1. Senin Membaca Kitab Suci
  2. Selasa Cerita Pagi
  3. Rabu Membaca Buku Pilihan
  4. Kamis Seputar Kata, Kalimat dan Angka
  5. Jumat Menulis
  6. Satu Bulan Membaca Buku Bersama di lapangan atau aula untuk satu angkatan
  7. Tes Kemampuan Efektif Membaca (KEM)
  8. Input Buku yang selesai/tama telah dibaca
  9. Tantangan Karya Literasi

Kegiatan-kegiatan diatas melahirkan sebuah data. Sebagai guru Informatika saya melihat data itu sebagai harta karun yang bisa diolah dan dijadikan sesuatu yang sangat berharga. Saya mencoba merancang di kertas selembar dan akhirnya jadilah draf Rapor Literasi. Saya selalu berkonsultasi kepada Kepala Sekolah yaitu Ibu Detty Nurwendah, M.Pd atas ide Rapor Literasi. Kepala Sekolah memberikan kesempatan untuk presentasi kepada seluruh guru-guru. Presentasi pertama adalah saat verifikasi untuk pembagian Rapor Akademik semester Ganjil tahun Ajaran 2023-2024. Hasil dari presentasi belum disepakati untuk mengeluarkan Rapor Literasi. Kepala Sekolah tetap mendukung, dengan memberikan kesempatan untuk memberikan pada saat Rapor Akademis bulanan. Saat setelah memberikan Rapor Literasi berbarengan dengan Rapor Akademis bulana pada saat semester genap tahun ajaran 2023-204 ternyata tidak ada hambatan, Tidak ada orang tua yang berkeberatan atas adanya Rapor Literasi. Maka, pertama kali Rapor Literasi diberikan adalah pada saat pembagian Rapor Akademis pada saat semester genap tahun ajaran 2023-2024 untuk kelas 7, 8 dan 9.

Untuk menjadi sebuah Rapor Literasi, saya mencoba melakukan langkah-langkah strategis:

1. Membuat Sistem Digital POLITERA (Poin Literasi Taruna Bakti)

  • Siswa menginput kegiatan literasi harian melalui tautan digital.
  • Setiap aktivitas bernilai 1 poin dan tercatat otomatis dalam database.
  • Data diolah sebagai sumber Rapor Literasi


2. Menyusun Struktur Rapor Literasi

Rapor berisi:

  • Identitas Siswa
  • Poin Literasi (POLITERA) setiap bulan dalam satu semester. POLITERA dirata-ratakan dan diberikan deskripsi.
  • Informasi jumlah buku yang dibaca
  • Hasil tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM) yang terdiri dari jumlah kata yang dibaca per menit, jumlah skor hasil pemahaman bacaan, skor KEM dan kategori hasil KEM.
  • Karya Literasi, yang memberikan informasi yaitu jenis karya yang dibuat, judul karya dan link karya yang bisa dibuka oleh siswa dan orang tua.

3. Menjadikan Rapor Literasi sebagai Dokumen Resmi

  • Rapor Literasi dipadukan dengan Rapor Akademis setiap semester.
  • Dokumen telah didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM sebagai karya orisinal atas nama Bambang Purwanto pada tanggal 27 Februari 2025.

4. Mengadakan Apresiasi Literasi

  • Menyebutkan hasil Poin Literasi (POLITERA) kelas setiap hari Senin untuk raihan POLITERA minggu sebelumnya
  • Memberikan piagam penghargaan sekolah setiap bulan kepada juara 1,2 dan 3 untuk setiap level kelas 7,8 dan 9.
  • Melaksanakan pemilihan Duta Literasi setiap bulan April. Duta Literasi diberikan medali dan piagam penghargaan oleh sekolah.
  • Publikasi karya siswa dalam bentuk buku dan online

5. Melibatkan Kolaborasi Guru dan Tenaga TU

Guru-guru turut memantau, mengingatkan, dan menguatkan pembiasaan literasi dalam pembelajaran sehari-hari.

  • Guru jam ke-1 mendampingi kegiatan literasi setiap pukul 06.45-07.00 di kelas atau di lapangan
  • Guru Bahasa Indonesia membantu untuk membuat naskah teks dan soal Tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM)
  • Guru Matematika membantu memberikan soal-soal yang berkaitan dengan Numerasi, untuk menjadi pendukung kegiatan literasi pada hari Kamis, yaitu Seputar Kata, Kalimat dan Angka.
  • Guru Bimbingan Konseling, memberikan konsekuensi pada siswa dengan membaca buku bersama.
  • Wali Kelas memotivasi siswa perwaliannya untuk mengikuti kegiatan literasi ini penuh semangat dan antusias.
  • Tata Usaha membantu menyiapkan perlengkapan kebutuhan kegiatan literasi membaca buku bersama di lapangan. TU membantu mencetak piagam-piagam penghargaan setiap bulan dan rapor literasi setiap akhir semeter.

6. Dukungan Manajemen

Manajemen sangat berpengaruh besar kepada perjalanan GLS di SMP Taruna Bakti, bukti nyata dukungan manajemen sekolah, yaitu :

  • Kepala Sekolah tahun ajaran 2016-2017 Bapak Insan Waluyo, S.Pd. menetapkan jam literasi 15 menit yaitu pukul 06.45-07.00 WIB. Penetapan waktu ini menjadikan waktu masuk ke sekolah lebih cepat 15 menit.
  • Kepala Sekolah tahun ajaran 2018-2019 Bapak Insan Waluyo, S.Pd memberikan dukungan penuh untuk kegiatan literasi sehingga bisa meraih Penghargaan Widya Pratama Tahun 2019 Kategori Sekolah Berbudaya Literasi Kategori Utama Dinas Pendidikan Kota Bandung.
  • Kepala Sekolah tahun ajaran 2023-2024 Ibu Detty Nurwendah, M.Pd. memberikan kesempatan untuk melahirkan inovasi Rapor Literasi yang digunakan sejak semester genap  tahun ajaran 2023-2024.
  • Kepala Sekolah tahun ajaran 2025-2026 Ibu Detty Nurwendah, M.Pd memberikan apresiasi kepada guru pendampin kegiatan literasi dalam bentuk poin Key Performance Indicator (KPI)
  • Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, memberikan waktu dan kesempatan dalam berbagai kegiatan kesiswaan untuk melaksanakan kegiatan literasi, seperti readhaton, presentasi dan diskusi.
  • Wakil Kepala Sekolah bidang Akademik, memberikan masukan tentang kegiatan literasi yang dihubungkan dengan akademik, seperti TKA. Memberikan soal-soal yang dalam kegiatan literasi di hari Kamis.
  • Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana, membantu menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Penyediaan majalah dinding, rak buku. televeisi dan pengeras suara ke seluruh kelas agar semua kegiatan literasi di SMP Taruna Bakti berjalan dengan baik.

6. Membangun Referensi dan Jejaring yang Kuat

Saya untuk mengembangkan kegiatan liteasi sekolah terus berupaya agar bisa melahirkan karya-karya tulisan yang mendukung program GLS di SMP Taruna Bakti :

7. Pengimbasan Program Liteasi SMP Taruna Bakti

Saya melakukan upaya pengimbasan kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan pengalaman mengelola kegiatan literasi di sekolah lain :

  • SMP Negeri 74 Bandung dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 2024.
  • SMP Negeri 44 Bandung dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2025.

P — Perubahan

Setelah berjalan hampir tiga tahun ajaran, program Rapor Literasi memberikan dampak yang signifikan:

1. Literasi Menjadi Budaya, Bukan Kewajiban

Siswa terbiasa mengikuti kegiatan literasi setiap pagi, dan muncul rasa bangga saat melihat perkembangan poin dalam rapor mereka.

2. Data Literasi Lebih Terukur dan Transparan

Guru dan orang tua dapat memantau capaian literasi siswa secara objektif, bukan hanya observasi umum.

3. Siswa Lebih Termotivasi

Penghargaan bulanan dan semesteran membuat siswa terdorong untuk konsisten membaca, menyimak, menulis, dan bernalar.

4. Sekolah Mengalami Transformasi Literasi

SMP Taruna Bakti menjadi salah satu sekolah di Indonesia yang telah memiliki Rapor Literasi resmi, lengkap dengan sistem digital dan pencatatan berkelanjutan.

5. Penguatan Identitas Sekolah Literat

Dengan adanya Rapor Literasi, sekolah memperkuat identitas sebagai institusi yang tidak hanya menilai kognitif akademik, tetapi juga membangun karakter, kebiasaan, dan minat literasi jangka panjang.

6. Realisasi Penyerahan Rapor Literasi di SMP Taruna Bakti

Peserta didik yang masuk Tahun Ajaran 2023-2024

NoTAKelasSemesterKeterangan
12023-20247GanjilBelum menerima rapor literasi
22023-20247GenapMenerima Rapor Literasi
32024-20258GanjilMenerima Rapor Literasi
42024-20258GenapMenerima Rapor Literasi
52025-20269GanjilMenerima Rapor Literasi (Desember 2025
62025-20269GenapMenerima Rapor Literasi (Juni 2026)

Peserta didik yang masuk Tahun Ajaran 2024-2025

NoTAKelasSemesterKeterangan
12024-20257GanjilMenerima Rapor Literasi
22024-20257GenapMenerima Rapor Literasi
32025-20268GanjilMenerima Rapor Literasi (Desember 2025
42025-20268GenapMenerima Rapor Literasi (Juni 2026)

Peserta didik yang masuk Tahun Ajaran 2025-2026

NoTAKelasSemesterKeterangan
12025-20267GanjilMenerima Rapor Literasi (Desember 2025
22025-20267GenapMenerima Rapor Literasi (Juni 2026)

Peserta didik yang akan menerima Rapor Literasi dari kelas 7 hingga kelas 9, akan dimulai dari peserta didik yang masuk pada tahun ajaran 2024-2025. Sampai saat ini Rapor Literasi telah diberikan  sebanyak 3 kali, yaitu :

  1. Semester Genap Tahun Ajaran 2023-2024
  2. Semester Ganjil Tahun Ajaran 2024-2025
  3. Semester Genap Tahun Ajaran 2025-2026


Kesimpulan

Rapor Literasi di SMP Taruna Bakti adalah praktik baik yang lahir dari kebutuhan nyata, dikembangkan dengan inovasi digital, dan menghasilkan perubahan transformatif. Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas literasi siswa, tetapi juga memperkuat budaya belajar, karakter, dan identitas sekolah sebagai pelopor gerakan literasi.

Perjalanan panjang Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP Taruna Bakti, dari tahun 2015 hingga sekarang, merupakan perjalanan yang konsisten. Saya terus mengupayakan bagaimana progam Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini berdampak kepada semua elemen di sekolah. Rapor Literasi menjadi sebuah mimpi yang terwujud karena sebuah kolaborasi dari semua elemen di SMP Taruna Bakti. Semoga saya bisa terus megnembangkan progam Gerakan Literasi Sekolah (GLS) khususnya di SMP Taruna Bakti dan umumnya di negeri yang saya cintai Indonesia. Literasi tidak hanya membangun kecerdasan tapi membangun kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *