Melibatkan Diri di Lingkungan

Guru bukanlah hanya seorang pendidik di sekolah sebagai tenaga profesional. Sosok guru di masyarakat sangat dipandang sebagai sosok yang bisa diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 dalam Bab II pasal 2 ayat 1 menjelaskan bahwa Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikanformal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama. Empat kompetensi tesebut adalah Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Sosial, dan Profesional.

Dalam kemampuan sosial tersebut, meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerja sama, bergaul simpatik dan mempunyai jiwa yang menyenangkan

Pengalaman berorganisasi di masyarakat yang pernah dilaksanakan, adalah sebagai berikut.

  1. Ketua RT
  2. Sekretaris RW
  3. Bidang Pemuda DKM Al Muhajirin
  4. Ketua RW (sampai bulan Februari 2023)

Mengelola organisasi kemasyarakatan sangat berbeda karakternya dengan organisasi yang formal seperti di tempat pekerjaan.

Pengalaman hari ini dikejutkan saat saya akan tidur di pukul 00.30 WIB hari Minggu tanggal 7 Februari 2021. Terdengar suara tangisan yang cukup kencang. Saya buka kain penutup jendela, untuk melihat keluar. Di depan rumah sudah ada tetangga yang memberikan kabar bahwa tetangga di depan rumah meninggal dunia.

Rasa kantuk tiba-tiba hilang. Kami keluar dari rumah untuk langsung datang ke rumah almarhumah. Almarhumah yang dari hari Jumat berada di RS, kini mendapat kabar bahwa meninggal dunia. Sebelum ada kabar meninggal suami dari Ibu Endang, sudah siap-siap akan pergi kembali ke RS. Sejak pagi hingga siang mengunggu di RS. Sempat diantara kami menahan Pak Endang untuk tetap di rumah. Teringat amanah isterinya, boleh pulang dulu siang ini tapi bapak shubuh datang lagi ke RS. Gerimis, rintik hujan turun. Rencana naik sepeda motor, saya sarankan menggunakan mobil saja. Pa Agus tetangga yang siap membantu, bergegas mengeluarkan mobilnya. Mereka bertiga berangkat. Pa Agus, Pa Deden dan Pa Endang.

Bapak-bapak yang hadir saat itu menunggu kabar jenazah jam berapa bisa keluar dari RS. Kita berkumpul sambil bercerita kejadian-kejadian sebelumnya yang seolah-olah firasat. Opung mengabarkan bahwa almarhum Ibu Endang mengajak botram (makan bareng). “Hayu ini botram terakhir”, kata almarhum Ibu Endang. Ya, saat itu tidak ada yang aneh, seolah kalimat yang disampaikan hanya candaan saja.

Bapak-bapak sekarang kita siapkan dulu di rumah. Yuk, kita beres-beres. Kami memindahkan kursi yang ada di ruang tamu, ke tempat yang lain. Ibu-ibu yang hadir pun bergegas membersihkan lantai dan menyimpan karpet.

Saya ajak Pak Dede ke mesjid untuk membawa keranda. Keranda yang bisa digunakan untuk memandikan jenazah. Ibu-ibu sigap menyiapkan air hangat untuk memandikan jenazah. Seperangkat kain kafan dan yang lainya sudah disiapkan. Mobil jenazSah tiba pukul 01.50 WIB. Prosesnya tidak terlalu lama untuk membawa jenazah keluar dari RS.

Membuat warga untuk bisa bergerak dalam kondisi apapun adalah hal yang terus dilatih. Terlibat langsung dalam kejadian apapun di masyarakat adalah salah satu cara melibatkan diri, bahwa guru memerankan perannya di masyarakat.

Bambang Purwanto
SMP Taruna Bakti
NPA PGRI : 10012000091

One thought on “Melibatkan Diri di Lingkungan

  • 07/02/2021 pada 8:15 pm
    Permalink

    Di masyarakat sosok seorang guru biasanya akan dilibatkan dalam kegaiatan kemasyarakatan..Guru dianggap serbi bisa, luwes dan terampil..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *