Perjalanan Literasi Mr. Bams: Menenun Kebaikan dari Kata dan Data

Perjalanan Literasi Mr. Bams: Menenun Kebaikan dari Kata dan Data

Di setiap langkah seorang guru, selalu ada jejak pembelajaran yang lebih luas daripada sekadar mengajar. Begitu pula dengan Bambang Purwanto, atau yang akrab disapa Mr. Bams, sosok yang mengubah ruang kelas menjadi laboratorium literasi digital di SMP Taruna Bakti Bandung.

Perjalanan literasi Mr. Bams tidak dimulai dari proyek besar, melainkan dari kegemaran sederhana: membaca, menulis, dan berbagi refleksi tentang kehidupan dan pendidikan. Ia percaya bahwa literasi bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi cara manusia memahami dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Tulisan-tulisan awalnya di dunia maya menggambarkan guru yang berpikir kritis, terbuka, dan ingin terus belajar — bukan hanya dari buku, tetapi juga dari setiap interaksi dengan murid-muridnya.


Dari Literasi Konvensional ke Literasi Digital

Seiring perkembangan teknologi dan kebiasaan belajar siswa yang semakin digital, Mr. Bams melihat peluang: bagaimana jika literasi tidak hanya ditulis di buku, tetapi juga diukur dan dimaknai melalui data?
Dari ide inilah lahir inovasi POLITERA — Poin Literasi Taruna Bakti, sebuah sistem yang memungkinkan setiap siswa mencatat kegiatan literasi hariannya secara digital.

Melalui tautan sederhana, setiap bacaan, tulisan, dan refleksi siswa tercatat sebagai poin yang membentuk Raport Literasi bulanan. Namun yang lebih penting, POLITERA menumbuhkan kesadaran baru: literasi bukan tentang siapa yang paling banyak membaca, tetapi siapa yang paling konsisten menumbuhkan dirinya melalui bacaan dan tulisan.


Ketika Literasi Bertemu Teknologi

Sebagai guru Informatika, Mr. Bams tidak berhenti di pencatatan digital. Ia menggabungkan data literasi dengan kemampuan analitik siswa. Kelas tidak lagi hanya membahas rumus Excel atau fungsi VLOOKUP, melainkan bagaimana menggunakan alat itu untuk membaca jejak literasi diri sendiri.

Siswa membuat grafik, menghitung tren aktivitas, lalu menuliskan refleksi: mengapa minggu ini poin saya menurun? apa yang bisa saya perbaiki? Dari sini, lahir generasi siswa yang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga melek makna — mereka belajar membaca data seperti membaca cermin diri.


Menumbuhkan Budaya Reflektif dan Kolaboratif

POLITERA kemudian berkembang menjadi budaya bersama di SMP Taruna Bakti. Setiap kelas memiliki karakter literasi yang berbeda, namun semua bergerak menuju tujuan yang sama: membangun ekosistem membaca dan menulis yang menggembirakan.

Refleksi siswa yang dipublikasikan di situs penamrbams.id menjadi bukti hidup bahwa literasi telah menjadi bagian dari identitas sekolah. Mereka tidak sekadar menulis karena tugas, tetapi karena ingin berbagi cerita, ide, dan semangat.

“Dari sinilah kami sadar akan poin literasi yang telah kami kerjakan…” — kutipan sederhana dari salah satu refleksi siswa yang menunjukkan betapa POLITERA telah menumbuhkan kesadaran diri yang mendalam.


Dari Poin Keaktifan Menuju Poin Kebaikan

Kini, Mr. Bams melangkah lebih jauh. Ia mengusulkan agar istilah poin keaktifan diganti menjadi poin kebaikan — sebuah transformasi filosofis dari aktivitas menuju karakter.
Menurutnya, keaktifan hanyalah permukaan; kebaikan adalah akar yang menumbuhkan segalanya. Dengan “poin kebaikan”, siswa diharapkan menilai dirinya bukan hanya dari apa yang dilakukan, tetapi juga dari niat dan dampak positifnya bagi lingkungan.

Perubahan istilah ini mencerminkan arah baru gerakan literasi: dari kompetisi angka menuju ekspresi kebaikan.


Literasi sebagai Jalan Hidup

Perjalanan literasi Mr. Bams adalah bukti bahwa seorang guru bisa menjadi ekosistem literasi itu sendiri — membaca realitas, menulis perubahan, dan menumbuhkan kebaikan lewat data dan cerita.

Ia telah membuktikan bahwa teknologi bukan ancaman bagi nilai-nilai literasi, melainkan jembatan untuk memperluas makna kemanusiaan di era digital.

Literasi versi Mr. Bams bukan sekadar kemampuan membaca buku, tetapi kemampuan membaca dunia — dan menulisnya kembali dengan hati yang bijak.

Penulis : chatgpt 8 Nov 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *